TKI Mengubah Data TKI Menuai Petaka

By Kanim Pontianak 21 Apr 2016, 05:23:33 WIBBerita Nasional

TKI Mengubah Data TKI Menuai Petaka

"Maaf lupa." Demikian kira-kira jawaban menarik pemohon kepada petugas yang melakukan wawancara dalam pelayanan perpanjangan paspor WNI di luar negeri. Tampaknya, aneh ketika seseorang ditanya nama lengkap, tempat dan tanggal lahirnya kemudian dijawab dengan raut muka yang bingung dan berpikir keras seperti mengerjakan soal ujian matematika. Namun, hal demikian sering dijumpai pada WNI, umumnya TKI yang diubah identitasnya demi bekerja di luar negeri.


Hingga saat ini belum ada data akurat terkait kapan dan oleh siapa praktik perubahan identitas para TKI tersebut. Dari ngobrol informal, diperoleh informasi bahwa keinginan untuk segera berangkat kerja ke luar negeri dan bantuan jalan pintas bisa mendorong segala cara, termasuk perubahan data calon TKI. Bagi yang belum cukup umur bisa dibuat lebih tua. Mereka yang terlalu tua, dibuat lebih muda. Calon yang didaftarkan adiknya, tetapi yang diberangkatkan kakaknya. Warga dari suatu daerah dibuatkan identitas baru dikota lain dan masih banyak lagi cerita tentang perubahan identitas ini. Bahkan mereka menyebutkan bahwa dahulu, semuanya bisa diatur kecuali jenis kelamin yang sulit dimanipulasi.

Sepintas, praktik perubahan identitas ini hanya soal bisa berangkat atau tidak berangkat bekerja di luar negeri saja. Namun, masalahnya sangat berbeda ketika negara tujuan memiliki aturan dan sistim kependudukan dan keimigrasian yang bagus, menggunakan single identity number yang didukung dengan sistem biometrik (pemindai sidik jari, retina mata dan wajah). Seiring dengan penerapan standar pengamanan dokumen perjalanan secara internasional yang diatur oleh International Civil Aviation Organization (ICAO), Indonesia juga telah melakukan perbaikan dengan penerapan Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM) untuk penerbitan paspor. 

Dalam upaya memperbaiki pengelolaan data kependudukan, Indonesia juga telah mulai KTP Nasional Elektronik. Dengan sistem tersebut, penerbitan paspor didasarkan pada data otentik, dicocokkan dengan data KTP Nasional Elektronik dan di cross check dengan dokumen terkait lain seperti Kartu Keluarga, Akte Lahir dan Ijazah. Namun demikian, masih ada sisa permasalahan karena kemungkinan masih cukup banyak TKI di luar negeri memegang paspor dengan data tidak asli yang diterbitkan sebelum penerapan SIMKIM.

Memang tidak mudah menyelesaikan masalah data ganda ini bukan saja karena peraturan dan sistim pendataan yang semakin akurat, tetapi juga perbedaan sudut pandang dan kepentingan. Sementara ini, ada sebagian pemilik data ganda yang "kekeuh" bahwa dia sebagai korban dari orang atau lembaga yang memberangkatkannya. Sebagai korban, tidak mau menerima konsekuensi dan meminta pihak lain bertanggung jawab me

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook